Inpirasi Suara Rakyat

Inpirasi Suara Rakyat

Viral Video Sekda Bali ‘Marahi’ ASN, Gubernur Wayan Koster Angkat Bicara: Wajar Sebagai Pembina, Donasi ASN Murni Sukarela!

post-title

Gubernur Bali, Wayan Koster, akhirnya angkat bicara menanggapi viralnya video yang viral, Sekda Dewa Indra terlihat geram lantaran ada ASN yang membocorkan informasi internal ke publik .

SUARAHATIDEWATA.COM,DENPASAR- Jagat maya dihebohkan dengan beredarnya sebuah video yang memperlihatkan Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Bali, Dewa Made Indra, tampak ‘memarahi’ aparatur sipil negara (ASN) Bali terkait bocornya informasi penggalangan donasi ASN untuk korban bencana banjir. Video ini memicu beragam komentar publik, mulai dari tudingan pemaksaan hingga isu ancaman mutasi bagi ASN yang enggan menyumbang.

Gubernur Bali, Wayan Koster, akhirnya angkat bicara menanggapi viralnya video tersebut. Menurutnya, apa yang dilakukan Sekda Dewa Made Indra adalah hal wajar dalam kapasitasnya sebagai pembina kepegawaian. “Enggak negur, enggak. Beliau itu Sekda sebagai pembina pegawai. Wajar saja. Dan ini donasinya adalah sifatnya gotong-royong sukarela. Apa yang jadi masalah?” tegas Koster di sela-sela menghadiri ujian disertasi Fakultas Hukum Universitas Udayana, Senin (22/9).

Dalam video yang viral, Sekda Dewa Indra terlihat geram lantaran ada ASN yang membocorkan informasi internal ke publik. Ia bahkan menyamakan tindakan itu seperti membuka rahasia rumah tangga sendiri ke pihak luar. Namun Koster menegaskan, donasi yang dilakukan ASN bukan paksaan, melainkan gotong-royong dengan acuan nominal berdasarkan jenjang pangkat dan penghasilan. “Dipatok itu karena penghasilannya beda. Ada yang gajinya Rp30 juta, Rp20 juta, Rp15 juta, ada juga Rp8 juta. Kan diberikan acuan. Mau sesuai acuan, mau lebih besar, mau lebih rendah, enggak apa-apa, enggak ada masalah,” imbuhnya.

Koster memastikan mekanisme donasi dikelola secara transparan oleh Badan Kepegawaian Daerah (BKD). Menurutnya, pola ini bukan hal baru karena sudah pernah diterapkan saat erupsi Gunung Agung dan pandemi Covid-19. “Pasti transparansi. Yang mengelola BKD. Ini internal pegawai. Apa masalahnya?,” ujarnya menepis tudingan adanya praktik gelap dalam pengumpulan dana.

Isu adanya ancaman mutasi bagi ASN yang tidak ikut menyumbang pun ditepis keras oleh Gubernur asal Desa Sembiran, Buleleng, ini. “Enggak ada, bohong. Itu dibesar-besarkan orang yang enggak bertanggung jawab. Namanya sukarela, enggak ada mutasi,” tandasnya.

Lebih jauh, Koster mengungkapkan alasan di balik penggalangan dana gotong-royong tersebut. Bali saat ini memasuki musim hujan dengan potensi bencana besar di bulan November hingga Februari mendatang. “Ini antisipasi. Begitu nanti ada bencana, saya langsung kasih bantuan dari dana gotong-royong ini,” katanya.

Tak hanya itu, Koster juga meluruskan informasi heboh soal donasi sebesar 2 juta dolar AS atau sekitar Rp33 miliar dari Pemerintah Timor Leste. Ia menegaskan Pemprov Bali belum pernah menerima bantuan tersebut. “Oh saya tidak (menerima) karena itu menyangkut negara, Timor Leste negara, tidak bisa langsung ke pemprov. Belum ada, baru omongan saja tanpa koordinasi,” pungkasnya.

Dengan penjelasan ini, Gubernur Koster menegaskan bahwa pola gotong-royong ASN adalah jati diri masyarakat Indonesia yang patut didukung, bukan dijadikan polemik.