Inpirasi Suara Rakyat

Inpirasi Suara Rakyat

Bali Darurat Kesehatan Mental, Angka Bunuh Diri Capai 95 Kasus di 2024

post-title

kondisi masyarakat yang sedang "sakit", baik secara emosional maupun sosial.

SUARAHATIDEWATA.COM,Bali-Tingginya angka bunuh diri/ulah pati di Bali menjadi sinyal darurat akan krisis kesehatan mental yang masih belum tertangani secara serius. Sepanjang tahun 2024, tercatat sebanyak 95 kasus bunuh diri di Bali, angka ini setara dengan 3,07 persen dari populasi dan bahkan 5 kali lipat lebih tinggi dari rata-rata nasional. Fakta ini menjadikan Bali sebagai provinsi dengan tingkat bunuh diri tertinggi di Indonesia.

Prof. Dr. dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, S.Ked., Sp.KJ(K), MARS, Guru Besar Universitas Udayana, menyatakan bahwa angka tersebut mencerminkan kondisi masyarakat yang sedang "sakit", baik secara emosional maupun sosial. Ia menilai masih kurangnya perhatian serius dari berbagai pihak terhadap isu kesehatan mental menjadi akar persoalan yang mendalam.

Tekanan adat, masalah ekonomi, dampak pasca pandemi, hingga stigma terhadap gangguan jiwa menjadi faktor utama yang menyebabkan masyarakat, terutama kelompok usia produktif, memilih diam dalam penderitaan,” jelas Prof. Cokorda Bagus.Prof. Dr. dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, S.Ked., Sp.KJ(K), MARS, Guru Besar Universitas Udayana.

Banyak masyarakat masih menganggap bahwa mengalami gangguan jiwa adalah sesuatu yang memalukan atau tabu. Akibatnya, mereka enggan berbicara atau mencari bantuan, takut dianggap lemah. “Ini kondisi yang sangat mengkhawatirkan dan harus segera ditanggapi dengan pendekatan yang lebih holistik dan manusiawi,” tegasnya.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana itu juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor—antara pemerintah, tenaga medis, tokoh adat, dan masyarakat—untuk menciptakan ekosistem yang mendukung kesehatan jiwa. Edukasi publik, peningkatan akses layanan psikologis, serta pengurangan stigma menjadi langkah awal yang mendesak dilakukan.

“Jika kita terus membiarkan ini, bukan hanya nyawa yang hilang, tapi juga masa depan generasi Bali,” tutup Prof. Cokorda Bagus.(7/4/2025)