SUARAHATIDEWATA.COM,Bali-Setiap hari, pasar-pasar tradisional di Bali dipenuhi aneka kebutuhan upacara seperti bunga cempaka, janur, hingga daun-daunan yang sejatinya sangat dibutuhkan oleh masyarakat Hindu Bali untuk melaksanakan persembahyangan harian. Namun yang menjadi sorotan adalah, sebagian besar bahan-bahan upacara itu justru didatangkan dari luar Bali, seperti bunga dari Jawa, janur dari Lombok, dan jenis dedaunan lainnya dari luar pulau.
Padahal, seperti diketahui, hampir di setiap sudut Pulau Dewata, upacara keagamaan digelar setiap hari. Mulai dari odalan, piodalan, hingga upacara rutin harian yang dilakukan oleh umat Hindu Bali. Maka tak heran jika kebutuhan akan sarana upacara terus meningkat dari waktu ke waktu.
Fenomena ini kemudian menimbulkan pertanyaan di kalangan petani lokal. Mengapa bahan-bahan upacara tidak dikembangkan secara serius di Bali? Apakah tanah Bali sudah tak cukup subur untuk menumbuhkan bunga, janur, dan bahan upacara lainnya?
“Petani banyak yang ingin kembali ke ladang. Tapi mereka bingung mau tanam apa. Kalau bahan upacara saja didatangkan dari luar, kami jadi ragu untuk menanamnya di sini,” ujar seorang petani.
Di pasar-pasar tradisional, topik hangat lainnya juga muncul soal kenaikan harga nyuh daksina (kelapa untuk upakara). Harga kelapa kini bisa menembus Rp 20.000 per butir. Kenaikan ini dipicu oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Musim kemarau yang berkepanjangan beberapa bulan terakhir menyebabkan produksi kelapa menurun secara alami.
Biasanya, kekurangan pasokan dari petani lokal bisa ditutupi dengan suplai dari daerah lain seperti Lombok atau Jawa. Namun jika cuaca buruk melanda daerah pengirim, distribusi pun terganggu. Ongkos kirim pun naik, pasokan menipis, dan akhirnya harga di pasar-pasar Bali ikut melonjak.
Yang lebih disayangkan, petani lokal masih merasa bahwa produksi mereka belum dianggap prioritas. Padahal, biaya produksi yang mereka tanggung pun meningkat. Mulai dari harga pupuk yang tinggi, risiko memanjat kelapa yang makin sulit, hingga tingginya biaya transportasi.
Di sisi lain, alih fungsi lahan pertanian menjadi area pembangunan villa atau perumahan juga turut mempengaruhi produktivitas pertanian di Bali. Perkebunan kelapa yang dulunya subur, kini perlahan tergantikan oleh bangunan komersial.
Fenomena ini menjadi tamparan keras bagi sektor pertanian Bali. Banyak pihak mulai mendesak agar ada kebijakan nyata dari pemerintah daerah untuk mendukung pertanian lokal, khususnya untuk produksi bahan upacara yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Bali.
Jika terus bergantung pada pasokan dari luar, maka ketahanan budaya Bali bisa terganggu. Harga bahan upacara akan terus melambung, sementara petani lokal makin kehilangan arah untuk menanam dan bertani di tanahnya sendiri.
Sudah saatnya Bali kembali menumbuhkan apa yang menjadi warisan budayanya. Bukan hanya melestarikan tradisi upacara, tetapi juga memuliakan tanahnya sendiri dengan menanam bunga, janur, dan kelapa daksina untuk masa depan budaya dan pertanian yang berkelanjutan.